Nasib Imigran Di Jakarta Bertahan Hidup

Nasib Imigran Di Jakarta Bertahan Hidup – seorang imigran dari Afghanistan yang berada di jakarta harus bertahan hidup karena mereka tidak tahu pasti dengan pemerintahan yang ada di indonesia.

Yang dimana pemerintah indonesia belum ada pemberitahuan tentang warga afghanistan yang tinggal dijakarta kapan harus balik kenegaranya, karena di jakarta mereka tidak ada yang menolong atau membantunya.

Sehingga warga afghanistan itu harus menunggu di penginapan dan memakan bantuan dari pemerintah indonesia, dan menunggu informasi dari negaranya dan negara indonesia.

Ada yang tinggal dipengusian dari tahun 2013 ada yang lima tahun ada yang tiga tahun ada juga yang lebih dari itu, sehingga mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.

Nasib Imigran Di Jakarta Bertahan Hidup

Ada yang tinggal di emperan jalanan ada juga yang tinggal di penampungan, mereka mencari nafka dijakarta susah dan mereka juga tidak mempunyai pekerjaan.

Mereka menginginkan pemerintah indonesia untuk memulangkan mereka kenegaranya, mereka merasa di phpin karena harus terus menunggu yang tidak pasti.

Mereka berharap ada yang memberikan bantuan dan meberikan mereka perkarjaan yang akan membuat mereka bisa bertahan hidup dijakarta.

Dengan status sebagai warga negara asing, warga afghanistan tinggal di Jakarta seperti di hutan rimba, warga afghnistan tidak menerima Jaminan Pekerjaan hingga Jaminan Kesehatan, juga kepastian masa depan.

Masyarakat Diimbau Ikut Membantu

Pemerintah meminta maaf karena banyak imigran yang tinggal di daerah rumah warga, dan pemerintah berharap warga bisa membantu warga imigran asal afghanistan itu.

Bantuan makanan dan bantuan tempat tinggal sementara agar bisa bertahan hidup untuk sementara, semoga warga tidak kerbertan dan tidak menolak warga imigran itu.

Warga imigra ada yang mengusi di kodim didaerah jakarta barat di kalideres, yang dimana ada puluhan imigran yang tinggal disana.

Dan warga juga berharap para imigran cepat mendapatkan repont yang cepat dari pemerintah jangan sampai mereka menunggu terlalu lama, sehingga bisa berdampak buruk pada warga imigran.

Hal serupa juga dikatakan Ketua RT 04 RW 17, ia bahkan mengklaim bahwa konsolidasi penerimaan warga tak diketahui sama sekali oleh pak Camat, Lurah, maupun para Ketua RT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *