Tanah yang Menjamin Kesehatan bagi Imigran

Tanah yang Menjamin Kesehatan bagi Imigran

Tanah yang Menjamin Kesehatan bagi Imigran – Sejumlah ratusan imigran telah benar-benar membanjiri berbagai
negara di Eropa, melarikan diri dari perselisihan di negara tempat
tinggal mereka untuk penghidupan yang lebih baik.

Perlu untuk berlayar di laut dan juga mempertaruhkan hidup mereka, imigran, banyak dari mereka dari Suriah, masih berkelompok ke Eropa.

Meskipun geografi Suriah lebih baik di negara-negara Teluk, para
imigran tidak serta-merta menjadikan negara-negara tetangga seperti
Arab Saudi dan Yordania sebagai negara lokasi. Selain itu, para
pejabat dari negara-negara tetangga tampak diam mengenai masalah ini.

Menurut para pakar di seluruh dunia dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, faktor utama bagi Eropa menjadi lokasi
imigran adalah karena kenyataan bahwa Benua surga menjamin kesuksesan.

“Mereka pergi untuk mendapatkan keselamatan dan keamanan, kesuksesan dan harapan baru,” kata Hikmahanto ketika diajak
bicara oleh CNN Indonesia pada Selasa (8/9).

Tanah yang Menjamin Kesehatan bagi Imigran

Hikmahanto memberikan contoh Jerman, negara Eropa yang
tahun ini memegang salah satu imigran terbesar, dipandang sebagai
salah satu negara dengan situasi ekonomi terbesar di Eropa saat ini. Dengan demikian, Jerman dianggap menarik kesejahteraan bagi para imigran.

“Jika 10 orang diterima di Jerman, setelah itu mereka pasti akan menyambut kerabat mereka untuk bekerja di sana, dan juga akan
memberi tahu mereka jalan yang aman untuk sampai ke sana,” klaim Hikmahanto.

Hikmahanto mengevaluasi bahwa meskipun negara-negara Teluk lebih dekat dan memiliki populasi Muslim yang besar, seperti juga imigran Suriah, mereka dipandang tidak menggunakan keamanan baru dan juga harapan seperti Eropa.

“Meskipun ada satu kepercayaan, khususnya Islam, namun beberapa faksi agama di negara-negara Arab, contoh terbesar adalah Sunni dan juga perbedaan Syiah. Mereka mencegah konflik lain,” kata Hikmahanto.

Mengacu pada informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, penduduknya sendiri sebenarnya ditempati oleh 88 persen kelompok Muslim Sunni. Meskipun demikian, panggung politik didominasi oleh kaum Syiah.

Lebih jauh, Hikmahanto menggambarkan bahwa negara-negara Eropa dipahami memiliki aplikasi hak sipil yang besar. “Eropa mendukung hak asasi manusia. Para imigran ini menginginkan agar mereka disetujui, diperlakukan dengan baik,” katanya.

Hikmahanto juga menyatakan bahwa rencana politik negara-negara Eropa juga berdampak pada sirkulasi imigran dalam beberapa bulan terakhir.

Hikmahanto menganggap pola pikir terbuka Kanselir Angela Merkel untuk mengakomodasi para pengungsi, dan bahkan menaikkan anggaran untuk membantu para pengungsi, membuat para imigran berbaris menuju Jerman.

“Eropa dianggap sebagai satu-satunya pilihan bagi imigran, di mana mereka dapat hidup dengan aman dan memiliki anak muda,” kata Hikmahanto.

Dianggap sebagai imigran ilegal, bukan kandidat suaka

Hikmahanto termasuk bahwa meskipun Eropa memikirkan tanah yang menjanjikan, banyak negara Eropa menunjukkan keraguan mereka untuk menyetujui imigran.

Hongaria, misalnya, sedang membangun pagar setinggi 3,5 meter di perbatasannya dengan Serbia dengan tujuan membendung harga imigran yang berniat menginjakkan kaki di Uni Eropa.

Sementara bulan lalu Slovakia menolak untuk cocok dengan imigran Muslim dan hanya akan cocok dengan imigran Kristen dengan alasan bahwa bangsa ini tidak memiliki masjid sendiri.

Pejabat di Denmark memperdebatkan aturan migrasi ketika 800 imigran masuk ke negara itu menuju Swedia.

Sebenarnya, banyak negara Eropa memberi wewenang pada Konvensi Evakuasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengontrol penerimaan pengungsi serta pelamar suaka di negara mereka.

“Negara-negara Eropa menganggap mereka imigran ilegal, bukan pengungsi atau pemohon suaka. Jadi mereka dapat menutup pintu mereka atau mungkin mendeportasi imigran,” kata Hikmahanto.

Tindakan ini, menurut Hikmahanto, adalah upaya untuk melindungi kepentingan interior individu bangsa, seperti menjauhkan diri dari perjuangan untuk kemungkinan bekerja antara individu pribumi dan imigran.

UNHCR menunjukkan bahwa minimal 366 ribu imigran telah benar-benar menyeberangi laut Mediterania ke Eropa. Sebagian besar menuju Eropa Barat, seperti Jerman, negara induk pengungsi terbesar. Istirahat akhir pekan lalu saja, Jerman menerima 18 ribu pengungsi.